Tuesday, August 7, 2012

TENTANG MENYUSUI DI DEPAN UMUM


@ID_AyahASI dan MommiesDaily bekerja sama untuk menurunkan beberapa artikel terkait ASI dan Menyusui dari sudut seorang Ayah. Artikel ini kami buat dalam rangka World Breastfeeding Week dan Pekan ASI Nasional. Berikut adalah salah satu artikel tersebut. Selamat Membaca.

TENTANG MENYUSUI DI DEPAN UMUM

Pernah ke Taman Safari atau Ragunan, kan? Kita selalu kagum kalau melihat seekor monyet lagi menyusui, sebuah peristiwa unyu yang langsung akan kita abadikan dengan smartphone terbaru lalu di-upload ke Twitter, Instagram, atau Path. Lalu, kurang keren apa menyusui bayi di tempat umum?
Kita beruntung hidup di Indonesia, yang secara turun temurun, meski banyak mitos yang beredar seputar ASI, namun menyusui masih cukup umum dilakukan. Kalau kita jalan di kampung-kampung misalnya, masih banyak ibu-ibu yang tidak sungkan mengeluarkan payudaranya agar si bayi tidak kelaparan. Saat film Si Unyil masih eksis, lagunya yang berjudul “Aku Anak Sehat” masih menyebutkan ASI dalam liriknya, dinyanyikan dalam setiap kesempatan oleh anak-anak dan orangtua. Sekarang? Hanya lirik seputar cinta yang dinyanyikan.
Di Amerika atau dunia barat secara umum, menyusui di tempat umum masih sering dianggap tidak sopan. Facebook contohnya, melarang publikasi foto ketika seorang ibu sedang menyusui, tapi membolehkan foto cleavage alias belahan payudara, aneh . Sementara di Indonesia, seorang ibu bisa dengan mudahnya mengeluarkan payudara di angkutan umum, pasar atau antrean puskesmas. Pertanyaan besarnya, jika banyak ibu yang bisa memberikan “makan siang” berupa susu botol dengan bebasnya di depan umum dan dianggap keren, kenapa yang seperti itu nggak berlaku juga buat bayi yang menyusui sebagai “makan siang”-nya? Toh, sama-sama memberi makan. Kata @drOei, Nursing = Feeding. Kalau orang lain minta dihormati agar ibu menyusui di tempat yang tertutup maka harusnya ibu menyusui juga harus dihormati dengan menyediakan tempat menyusui yang nyaman di mana saja dan kapan saja.

Jika permasalahannya adalah aurat, maka sekarang banyak alat untuk menutupinya, apron menyusui misalnya. Tapi sayang nggak ada alat untuk menutupi pikiran kotor bagi orang yang melihat seorang ibu sedang menyusui dan menganggap hal tersebut sebagai bentuk pornografi, get a life!
Nggak ada istilah orangtua gagal jika mereka tidak bisa memberikan anaknya ASI dengan sempurna hingga 2 tahun. Karena sesungguhnya masyarakat yang telah membuat mereka gagal memberikan ASI hingga 2 tahun. Ada begitu banyak mitos, ada begitu banyak tenaga kesehatan yang terang-terangan menganjurkan pemakaian susu formula tanpa indikasi medis dan ada banyak orang yang membuat seorang ibu menyusui sebagai pihak yang sok suci. C’mon, we are on the same side. Kita harusnya menuntut pemerintah karena telah membuat istri kita tidak bisa memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan atau bahkan 2 tahun. Kita harusnya menuntut pemerintah untuk menciptakan linkungan yang nyaman bagi ibu menyusui, harusnya kita menuntut pemerintah untuk “memaksa” semua tempat umum dan perkantoran menyediakan ruang menyusui agar si ibu tidak “membuat” makanan untuk anaknya di toilet dan harusnya kita – sebagai suami – juga berani memintakan izin kepada atasan istri agar memberikan waktu untuk memerah ASI di kantor. Nggak salah, kan, melindungi istri dan anak-anak kita?

Anyway, berikut sekedar kiat kalau emang istri kita mau menyusui di tempat umum:
  1. Gunakan baju menyusui yang memberikan akses mudah ketika akan menyusui, anak-anak nggak tentu waktunya kapan minta nenen bukan? Kalau belum bisa pergi ke mal, carilah di online shop.
  2. Jangan ketinggalan juga apron menyusui, sekarang ada banyak corak dan model, menyusui pada akhirnya bisa tetep gaya, kok.
  3. Menyusui pake baby sling/wrap, nggak perlu beli yang merek luar, sekarang banyak yang merek lokal dan nggak kalah kualitasnya. Biasanya disediakan juga cara menggunakannya atau bisa cek di YouTube, ada cara menggunakannya sambil menyusui.
  4. Gunakan nursing room yang meski nggak sebanyak smoking room di beberapa tempat umum. Jika tidak ada, bisa gunakan musala atau minta izin menggunakan ruang ganti pakaian.
  5. Latihan di rumah, dengan begitu kita bisa menemukan kiat dan trik yang nyaman buat menyusui di tempat umum.
Meski kadang masih banyak yang mencemooh menyusui di tempat umum, percayalah pada saat yang bersamaan sebenarnya kita sedang mengedukasi mereka. Bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan menyusui anak kita sendiri. Sampaikan kepada dunia, kalau kita sedang menyusui. Be proud.
@a_rahmathidayat


MENGHADAPI PEMASARAN SUSU FORMULA


@ID_AyahASI dan MommiesDaily bekerja sama untuk menurunkan beberapa artikel terkait ASI dan Menyusui dari sudut seorang Ayah. Artikel ini kami buat dalam rangka World Breastfeeding Week dan Pekan ASI Nasional. Berikut adalah salah satu artikel tersebut. Selamat Membaca.

MENGHADAPI PEMASARAN SUSU FORMULA

Pada saat seorang lelaki belum menikah atau baru saja menikah, mungkin tidak pernah merasakan keberadaan pemasaran susu formula. Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana: seorang lelaki yang belum menikah, baru menikah atau belum punya anak, bukanlah target market pemasaran susu formula.
Namun akan sangat berbeda ketika seorang lelaki berada pada situasi di mana istri positif hamil, hamil muda, hamil tua, dan melahirkan. Mendadak ke mana pun dia pergi, berbagai macam bentuk pemasaran susu formula mulai tampak. Mengapa demikian? Karena pada saat itu lelaki tersebut sudah menjadi target pasar susu formula: seorang calon ayah, atau baru menjadi ayah, yang tiba-tiba harus memikirkan apa yang dibutuhkan si bayi, mulai dari kesehatannya, kebutuhannya, asupan nutrisi dari susu atau makanan dan banyak lagi. Selain itu mereka mulai dibebani berbagai ekspektasi dari istri, mertua, orangtua, dan lingkungan sekitar, bahwa “Kamu akan segera menjadi ayah dan kamu harus bertanggung jawab untuk memberikan semua kebutuhan anak.”


Tepat pada saat kondisi yang cukup rentan inilah timbul kebutuhan untuk mendapatkan solusi yang memudahkan keadaan tersebut. Kebutuhan inilah yang sering kali dimanfaatkan oleh susu formula untuk masuk memasarkan produk tersebut sebagai bagian dari solusi.
Kapankah kondisi rentan tersebut terjadi? Umumnya kondisi tersebut terjadi di saat calon ayah atau ayah baru berada di tempat di mana dia membutuhkan bantuan, seperti ketika berada di lingkungan rumah sakit.  Walaupun sudah ada banyak peraturan dan etika pemasaran susu formula di Indonesia (yang bisa dilihat di sini: http://aimi-asi.org/peraturan/) namun banyak juga kreativitas para pemasar susu formula yang cukup canggih untuk membujuk mereka yang sebenarnya bisa berhasil ASI ekslusif, agar lebih memilih susu formula. Tentunya kita hanya bisa menduga-duga kompensasi apa saja yang diberikan oleh produsen susu formula kepada bidan, suster dan rumah sakit. Namun yang sudah pasti terlihat adalah keberadaan branding susu formula dan SPG yang mencatat nomor HP kita di rumah sakit bersalin.
Untuk menghadapi hal ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
  1. Sebelum menjadi Ayah atau bahkan saat masih single atau masih pacaran, ketahuilah tentang manfaat ASI sedini mungkin. Mengapa ini penting? Agar pada saat kondisi kita belum “rentan” (masih belum terbebani dengan berbagai tanggung jawab mengenai anak) siapkan dahulu fondasi pengetahuan kita mengenai manfaat dan pentingnya ASI ekslusif 2 tahun.
  2. Sebelum menjadi Ayah, cobalah berjalan di antara rak susu formula, kemudian lihat harganya, dan hitung, berapa pengeluaran kita untuk susu formula selama 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan 1 tahun, 2 tahun. Hal ini penting dilakukan untuk memotivasi para calon ayah untuk bersemangat menyukseskan ASI eksklusif 2 tahun. Coba hitung berapa banyak dana yang sebenarnya bisa dibelikan gadget dan hobi para ayah, atau coba lihat bila uang tersebut digunakan sebagai tabungan dana pendidikan anak sejak dini.
  3. Pastikan kita mengetahui hak-hak kita di rumah sakit. Hal ini bisa dikonsultasikan kepada teman-teman yang aktif di berbagai organisasi pendukung ASI, seperti AIMI untuk mengetahui hak apa saja yang kita punya. Sehingga kita tahu bahwa pemberian sufor harus mendapat persetujuan dari kita, bila terjadi tanpa sepengetahuan kita, maka produsen sufor tersebut bisa dilaporkan.
Intinya, satu-satunya cara untuk menghadapi  pemasaran susu formula adalah, dengan memperbanyak pengetahuan tentang ASI dan saling mendukung dan membantu berbagi informasi tentang manfaat dan kebaikan ASI.

@ShafiqPontoh

ASI OBROLAN IBU-IBU?

@ID_AyahASI dan MommiesDaily bekerja sama untuk menurunkan beberapa artikel terkait ASI dan Menyusui dari sudut seorang Ayah. Artikel ini kami buat dalam rangka World Breastfeeding Week dan Pekan ASI Nasional. Berikut adalah salah satu artikel tersebut. Selamat Membaca.


ASI OBROLAN IBU-IBU?


“Bapak-bapak ngomongin ASI? Okelah kita paham kalau bapak-bapak harus dukung istrinya dalam menyusui … tapi apa memang perlu bapak-bapak ini ngobrolin juga? Di antara laki-laki?”
Well…we got that A LOT! Nggak hanya dari sesama bapak tapi juga dari  para ibu juga. Malah kami nggak hanya ngomongin tapi juga KAMPANYE soal ASI! Agak sedikit freak, sih, ya, Membayangkannya? Hahahaha.
Jujur saja soal membahas ASI mungkin itu prioritas nomor paling buntut buat pria. Salah satu hal yang nggak akan kita pikirkan kecuali kalau sudah harus, disodorin di depan mata atau terpaksa.
Tapi tahukah Anda menurut dr. Utami Roesli, SpA, “Penelitian menunjukkan, dari 115 ibu yang suaminya tidak memberikan dukungan, ternyata tingkat keberhasilannya 26,9 persen. Sementara pada kelompok ibu menyusui yang mendapat dukungan dari ayah, tingkat keberhasilannya hampir 100 persen, yakni 98,1 persen.”

Jadi ternyata bapak-bapak ini ada gunanya juga dalam proses menyusui dan justru penting sekali, lho!
Waktu Diba (Sekjen AIMI) pertama mengundang ketemuan sama  para bapak yang menjadi cikal bakal ID_AyahASI ini soal dukung-mendukung ASI, agak bingung juga, sih, ya kami mau melakukan apa. Di pertemuan tersebut yang kami lakukan adalah berbagi mengapa mendukung pemberian ASI, kami saling mendengar problem, dan juga ilmu yang dibagi oleh para bapak ini.
Ternyata kesimpulan kami saat itu adalah kampanye pemberian ASI di Indonesia selama ini SAMA SEKALI tidak menyentuh para pria yang kenyataannya adalah rekan terdekat ibu dan seperti hasil penelitian di atas, mempunyai pengaruh signifikan terhadap keberhasilan menyusui. Banyak bapak  di luar sana yang mungkin ingin mendukung tapi tidak tahu caranya, gengsi untuk bertanya dan bantu-bantu takut disangka nggak macho, dan lain sebagainya.
Selain itu juga, karena di Indonesia umumnya support group ASI diinisiasi oleh ibu-ibu, terasa agak sulit untuk para bapak untuk ikut bergabung dan aktif.
Pada saat itulah kami beberapa bapak-bapak yang sedikit kurang kerjaan dan merasa peduli untuk mengembangkan kampanye ASI kepada para bapak mulai kasak kusuk mengenai apa yang bisa dilakukan.
Karena kebetulan kami para bapak-bapak ini pria juga, hal yang pasti kita sadari dan ketahui itu adalah: pria itu egonya tinggi! Nggak ada, tuh, ceritanya kita bisa dipengaruhi dengan cara digurui kalau kita nggak ingin tahu dan apalagi kalau pakai cara disindir-sindir sama istri (atau paling parah, orang lain).“We, men, are capable of taking care of ourselves and our families!”; “We know what’s best for my family!”begitu mikirnya. Tapi untungnya, pria itu umumnya cara berpikirnya sederhana. Logika sederhana seperti keuntungan dari segi finansial karena mendukung menyusui, bukti-bukti ilmiah kebaikan menyusui dan ditambah bisa kasih yang terbaik untuk anak dan istri tanpa harus punya nama belakang ‘Sampoerna’ cukup menjadi motivasi seorang pria untuk mau mendukung pemberian ASI kepada anaknya.
Pendekatan kampanye kepada para bapak juga lebih mudah karena kita tidak diribetin oleh masalah-masalah tipikal dan sensitif para ibu (dianggap nge-judge, peer pressure and competition, debat soal full time mom, stay at home mom, working mom etc). Untuk para ibu yang ‘tidak sengaja’ kena kampanye kita juga mungkin jadi alternatif untuk mereka, karena seperti punya sahabat pria yang bisa diajak berbagi soal ASI. Jadi sepertinya masa depan cukup cerah, nih, untuk kami, para bapak-bapak ini bikin kampanye ASI.
Itulah yang kemudian menjadi landasan kita ketika kita menyiapkan buku kita #CatatanAyahASI (yang Alhamdulillah ternyata ada yang beli dan baca ;p) dan juga akun twitter @ID_AyahASI dengan gaya bahasa nonformal dan netral.
Mengutip perkataan teman saya, @bangaip, di prakata #CatatanAyahASI: “Kami percaya bahwa setiap orangtua tidak perlu diajarkan cara menangani isu soal anak, karena semua orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya dengan cara masing-masing. Karena itu, kami cukup berbagi tentang pengalaman kami menjadi orangtua yang berusaha tadi. Ada masa kebingungan, panik, melakukan kesalahan, dan membiarkan berbagai buku tertutup rapi, karena reaksi selalu naluriah, tidak text-book“.
Harapan kami, pengalaman kami berdelapan ini bisa jadi materi bacaan santai, rujukan untuk mengenalwhat’s on with other dads tanpa mengintervensi kemampuan ayah lain untuk mengambil keputusan terbaik bagi anaknya”
Mudah-mudahan langkah kecil kami untuk turut mengurus dan membicarakan isu soal ASI dapat mempunyai peran dalam meningkatkan angka menyusui di Indonesia dan bisa menjadi rujukan para ayah dalam mendukung proses menyusui. Semoga.

@sipandu, temannya mimin @ID_AyahASI

KENAPA SUPPORT ASI

@ID_AyahASI dan MommiesDaily bekerja sama untuk menurunkan beberapa artikel terkait ASI dan Menyusui dari sudut seorang Ayah. Artikel ini kami buat dalam rangka World Breastfeeding Week dan Pekan ASI Nasional. Berikut adalah salah satu artikel tersebut. Selamat Membaca.


KENAPA SUPPORT ASI?


Biar terlihat keren di depan para mahmud (mamah muda). Hehehe.
Seriously, selalu bingung kalau diajukan pertanyaan di atas. Memangnya aneh banget, ya, bila seorang pria mendukung istrinya memberikan ASI? Setalah dua tahun membantu istri dan kemudian melihat anak kami tumbuh berkembang sehat hingga sekarang berumur empat tahun, pertanyaan tersebut menjadi tidak relevan buat saya. Mungkin pertanyaannya sebaiknya dibalik, kenapa ada suami yang tidak men-support ASI?
Untuk saya pribadi, ada beberapa hal yang mengakibatkan saya mendukung istri saya untuk mendukung pemberian ASI:

1. Saya ingin berkontribusi bagi keluarga saya. Saya percaya bahwa membangun rumah tangga, termasuk membesarkan anak, memerlukan kerjasama dari pasangan suami istri. Bikinnya berdua, membesarkannya juga bersama-sama, dong. Terlalu sempit bila peranan suami hanya dikotakkan dalam mencari nafkah saja, kemudian dijadikan alasan untuk berleha-leha seusai bekerja. Apa kabarnya istri mereka yang mengandung sembilan bulan, mau mati ketika melahirkan, dan kemudian kecapeanmenyusui anak mereka? Apa kabarnya para istri yang sudah bekerja tapi masih harus terbangun malam hari untuk mompa atau menyusui? Please, deh, hari gini cuma mau ongkang-ongkang kaki dan buka sarung doang .
2. Kenapa ASI? Kenapa nggak? Apakah ada zat nutrisi lain yang lebih baik dari ASI? Komponen dalam susu formula yang paling baik sekalipun, masih belum bisa menggantikan ASI. Semua protein, vitamin, enzim, serta nutrisi ada dalam cairan ASI, dan semuanya GRATIS! Hal yang dibutuhkan hanya kemauan untuk membuka wawasan dan tidak tunduk pada iklan sufor semata.
3. Saya teringat ketika SD, saya melihat ibu-ibu cukup membuka beha untuk menyusui anaknya.Sederhana, praktis, dan mudah namun sangat penuh kasih sayang. Begitu mengesankan. Lalu ketika SMA , saya sering merasa kasihan ketika melihat mahmud sibuk mengeluarkan termos, mengaduk sufor, membersihkan seluruh pernak-pernik lainnya. Ada jarak, ada kasih sayang yang terputus ketika melihat adegan itu. Sekarang mungkin lebih parah lagi, mahmud-nya melenggok dengan blow rambutnya yang jaya, sementara baby sitter-nya sibuk menyiapkan sufor. Heboh, modern, kosmopolitan, tapi hampa. Saya tidak ingin kehampaan itu ada di keluarga saya. Saya ingin menciptakan keluarga yang hangat, dan lewat ASI, saya mencoba mewujudkannya.
Awalnya, saya pikir cuma saya yang ‘aneh’ mendukung istri saya memberikan ASI. Namun, ketika saya dipertemukan oleh lima orang dan kemudian tujuh orang bapak oleh Diba dan Nia dari AIMI, saya yakin, saya tidak sendirian. Setelah sekian lama berinteraksi, saya melihat benang merah di antara kami berdelapan: kami peduli dengan istri-anak kami, dan mau “hands on” dalam hal membesarkan anak. Kami juga pria-pria yang mau membuka diri, dan menurunkan ego dalam persusuan, karena kami berdelapan yakin, apa yang kami lakukan merupakan hal yang terbaik bagi anak dan istri kami.
Kami semakin yakin bahwa banyak para ayah yang mendukung istri dalam memberikan ASI setelah kami membuat akun Twitter @ID_AyahASI. Dari akun yang sama, kami juga menemukan banyak pula para ayah yang menyesal karena membiarkan anak mereka mengonsumsi sufor. Beberapa dari mereka kemudian bertekad untuk full memberikan ASI untuk anak kedua atau ketiga (atau anak pertama dari istri yang lain. Hehehe– jitak, ya *tambahan dari redaksi).
Sekarang, tugas kita bersama adalah mengangkat kesadaran bahwa lumrah adanya bila seorang ayah mendukung istri mereka dalam memberikan ASI. Jabat tangan erat dan tepuk di pundak buat mas bro yang sudah dan akan mendukung istri mereka. Dengan demikian, kita dapat membuat Indonesia jadi lebih baik.

@siadit, mimin @ID_AyahASi yang (konon) suka bikin kopi


Tuesday, June 19, 2012

Indikasi Medis pada PP 33 Tahun 2012


Kutipan dari penjelasan Pasal 7 PP 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif

Yang dimaksud dengan “indikasi medis” adalah kondisi medis Bayi dan/atau kondisi medis ibu yang tidak memungkinkan dilakukannya pemberian ASI Eksklusif.

Kondisi medis Bayi yang tidak memungkinkan pemberian ASI Eksklusif antara lain:

Bayi yang hanya dapat menerima susu dengan formula khusus, yaitu Bayi dengan kriteria:
  1. Bayi dengan galaktosemia klasik, diperlukan formula khusus bebas galaktosa;
  2. Bayi dengan penyakit kemih beraroma sirup maple (maple syrup urine disease), diperlukan formula khusus bebas leusin, isoleusin, dan valin; dan/atau
  3. Bayi dengan fenilketonuria, dibutuhkan formula khusus bebas fenilalanin, dan dimungkinkan beberapa kali menyusui, di bawah pengawasan.
Bayi yang membutuhkan makanan lain selain ASI selama jangka waktu terbatas, yaitu:

  1. Bayi lahir dengan berat badan kurang dari 1500 (seribu lima ratus) gram (berat lahir sangat rendah);
  2. Bayi lahir kurang dari 32 (tiga puluh dua) minggu dari usia kehamilan yang sangat prematur; dan/atau
  3. Bayi baru lahir yang berisiko hipoglikemia berdasarkan gangguan adaptasi metabolisme atau peningkatan kebutuhan glukosa seperti pada Bayi prematur, kecil untuk umur kehamilan atau yang mengalami stress iskemik/intrapartum hipoksia yang signifikan,
  4. Bayi yang sakit dan Bayi yang memiliki ibu pengidap diabetes, jika gula darahnya gagal merespon pemberian ASI baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kondisi medis ibu yang tidak dapat memberikan ASI Eksklusif karena harus mendapat pengobatan sesuai dengan standar. Kondisi ibu tersebut antara lain:

  1. Ibu yang dapat dibenarkan alasan tidak menyusui secara permanen karena terinfeksi Human Immunodeficiency Virus. Dalam kondisi tersebut, pengganti pemberian ASI harus memenuhi kriteria, yaitu dapat diterima, layak, terjangkau, berkelanjutan, dan aman (acceptable, feasible, affordable, sustainable, and safe). Kondisi tersebut bisa berubah jika secara teknologi ASI Eksklusif dari ibu terinfeksi Human Immunodeficiency Virus dinyatakan aman bagi Bayi dan demi untuk kepentingan terbaik Bayi. Kondisi tersebut juga dapat diberlakukan bagi penyakit menular lainnya;

  2. Ibu yang dapat dibenarkan alasan menghentikan menyusui sementara waktu karena:
    a. penyakit parah yang menghalangi seorang ibu merawat Bayi, misalnya sepsis (infeksi demam tinggi  
       hingga tidak sadarkan diri);


    b. infeksi Virus Herpes Simplex tipe 1 (HSV-1) di payudara; kontak langsung antara luka pada payudara ibu     

        dan mulut Bayi sebaiknya dihindari sampai semua lesi aktif telah diterapi hingga tuntas;


    c. pengobatan ibu:

    > obat-obatan psikoterapi jenis penenang, obat anti–epilepsi dan opioid dan kombinasinya dapat menyebabkan efek samping seperti mengantuk dan depresi pernapasan dan lebih baik dihindari jika alternatif yang lebih aman tersedia;

    > radioaktif iodine–131 lebih baik dihindari mengingat bahwa alternatif yang lebih aman tersedia, seorang ibu dapat melanjutkan menyusui sekitar 2 (dua) bulan setelah menerima zat ini;

    > penggunaan yodium atau yodofor topikal misalnya povidone–iodine secara berlebihan, terutama pada luka terbuka atau membran mukosa, dapat menyebabkan penekanan hormon tiroid atau kelainan elektrolit pada Bayi yang mendapat ASI dan harus dihindari; dan

    sitotoksik kemoterapi yang mensyaratkan seorang ibu harus berhenti menyusui selama terapi.


Memakai susu formula tetapi si anak atau ibu tidak termasuk dalam kategori diatas? Optimalkan ASI, perbaiki Manajemen ASI Perahan (ASIP) dan konsultasi dengan Konselor Laktasi atau ke Klinik Laktasi.








Wednesday, May 16, 2012

ASI Baru Lahir Sedikit?



Bayi nangis itu ga berarti lapar





@ID_AyahASI: Pagiiii...banyak yang baru lahiran yah? Selamaaaat, Biasanya suka khwatir karena ASI belum keluar...bahas dikit yuuuk#ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Banyak yg parno ASInya ga keluar pas habis melahirkan..kalo pas hamil belum keluar tambah bikin parno lagi..knp ga prlu khawatir? #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: ASI memang udah mulai di produksi di kala hamil dan emang harusnya ga keluar pas hamil..tp kok ada yg keluar? Itu cuma bocor aja kok #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Karena bocor,jd buat yg ASInya ga keluar pas hamil ga perlu khawatir..krn harusnya emang keluar stl melahirkan..tp kok H1 blum keluar nih? #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Hari 1-3 setelah melahirkan bayi hanya butuh kolostrum, jangan ngebayangin si kolostrum ini bakal 1/2 botol ato sebotol yak..doi emang dikit #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Meski dikit, kolostrum maha penting kandungannya buat bayi, ada Immunoglobin yg bantu kekebalan, biar kaya super hero di The Avengers :)) #ASIbaruLahir


@ID_AyahASI: Bayi baru lahir itu dikasih bekel makanan sama emaknya, ransum si bayi itu cukup utk 72 jam,itu berarti doi bisa bertahan selama itu tnp ASI #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Tapi si baby nangis min? Kelaperan? Nah, siapa yang di awal kelahiran bayinya tertawa terbahak-bahak sampe guling-guling? Hehe, ga ada kan? #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Di dalam kandungan itu  nyaman bgt buat bayi,doi nangis karena dunia pada rempong..suara suster, suhu dingin AC,cahaya lampu,suara PING! :) #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Dia cuma pengen kenyamanan kaya waktu didalam kandungan..ga mau jauh2 dari emaknya..itu knp rooming-in dan skin2skin contact jg penting #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Kolostrum pasti keluar min? PASTI..jgn bilang ga keluar kalo pas diperah/pompa sgt sedikit hasilnya..tp itu normal? NORMAL #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Nenenin bayi tiap 2-3 jam setelah melahirkan, ASI pasti merembes..itu kolostrum, pasti bikin kenyang bayi..tau dari mana min? #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Ukuran lambung bayi usia 1-3 hari itu masih segede gundu, kolostrum yg sedikit itu udah bisa bikin dia kenyang..cuma butuh 1 sendok teh kok #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Jadi kalo ada suster yang bilang, "ASInya soalnya sedikit" jawab aja: emang masih sedikit kok..kan lambung bayi jg masih kecil :) #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Rangsang payudara utk keluarkan ASI..pijat lembut, nenenin bayi tiap 2-3 jam (hisapan bayi beri rangsang sempurna), perah tangan/pompa #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Lakukan rangsang itu sesering mungkin..perasaan senang, tenang dan girang sangat penting..tugas Suami nih utk pastikan Istri ga parno! #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Dulu pas malem pertama juga dirangsang suami kan? Hehe..diawal,payudara emang perlu sering dirangsang utk keluarkan ASI #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Bentuk sugesti positif, misalnya: dgn minum vitamin pelancar ASI, makan sayuran yg dipercaya bikin ASI lancar atau semur jengkol :) #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Biasanya setelah 72 jam ASI agak mulai banyak..tapi ingat ini: HASIL PERAH/POMPA BUKAN TANDA PRODUKSI ASI SEDIKIT..syukuri brpapun hasilnya #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Rangsangan yg berbeda pada payudara akan keluarkan ASI yang berbeda jumlahnya juga..mood kita juga ga bisa di set seneng terus kan? #ASIbaruLahir

@ID_AyahASI: Kuncinya: konsisten keluarkan ASI (nenen/perah),syukuri berapapun hasil perah/pompa dan pikiran positif.Demikian, smoga ga parno-an lagi :) #ASIbaruLahir

Mimin Alergi (lagi)







Pencetus alergi umumnya adalah makanan


@ID_AyahASI: Hayuklah kita bahas tentang alergi, eh tapi mulai dari mana yah? Sembarang deh yah, kali ini dalam lakon #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Okay..penting untuk di ingat kalo alergi ga ada obatnya! Yups, obat2an yg ada hanya untuk reaksi alergi #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: bruntusan di pipi, sesak nafas (asma), pup keras, sering gumoh/muntah adalah bbrp reaksi alergi yg sering ditemuin #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Terus gimana biar ga ada reaksi? Yah, cuma satu solusinya..Hindari Pencetusnya tapi jangan berpaling dariku *apaseeeh* #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Alergi adalah reaksi imunitas tubuh kita terhadap suatu substansi yg ada di lingkungan kita, biasa di sebut allergen #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Edaan..keren kan bahasa mimin..udah kaya dokter dah ah..jd Allergen kira2 adalah sesuatu yg bikin alergi #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Makanan yah? Ga selalu..walaupun sering, tp Allergen bisa juga hirupan, kontak kulit dan obat2an #MiminAlergi 



 @ID_AyahASI: Nah,jika tubuh anak ada kontak dengan allergennya,tubuh anggap itu berbahaya dan keluarkan histamin utk lawan #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Histamin adalah bahan kimia kuat yang dapat memengaruhi sistem pernafasan, saluran pencernaan, kulit #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Itu kenapa, ketika histamin lagi lakukan perlawanan biasanya muncul reaksi di kulit,pernafasan dan pencernaan #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Jika histamin dilepaskan dalam saluran pencernaan,mungkin akan mengembangkan sakit perut,kram,diare atau susah pup #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Jika histamin dilepaskan di kulit, maka reaksi yg biasanya muncul adalah gatal-gatal atau ruam #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Beberapa faktor yang pengaruhi adalah genetik (turunan ortu/keluarga), blum matangnya saluran cerna dan terpapar penyebab alergi #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Jadi perhatikan,kalo kedua ortu ada riwayat alergi 50% bisa menurun ke anak,jika salah satu aja sekitar 25-50% #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Nah kalo ga ada riwayat min? Potensinya hanya sekitar 5-10%..jd masih ada potensi utk alergi, itu kenapa harus di amati terus #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Terus gimana biar tau si allergen ini min? Tes Alergi? Atau general check-up? atau apa min,apaaa min? Sleepbb *sumpelBH* drama banget sih #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Tes alergi hanya bisa memastikan individu mempunyai bakat alergi, bukan memastikan penyebab alergi #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Itu kenapa, tes alergi pada dasarnya tidak efektif..apalagi anak2 masih dalam masa pertumbuhan,imunitas tubuhnya masih berkembang #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Jika allergennya adalah makanan, maka Eliminasi Provokasi Makanan patut dicoba,ini adalah standar baku #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Ada yg namanya 4 days rule, cobain makanan satu jenis dulu selama 4 hari..kalo ga ada reaksi, baru pindah ke jenis yg lain #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Ini berlaku juga buat emaknya,kalo masih nenen,emaknya yg nyobain 1 jenis makanan yg dicurigai,jadi bukan alergi karena ASI #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Jadi kuncinya simple kok...amati, amati dan amati..dalam kasus alergi, orang tua lah dokternya #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Kalo bukan makanan gimana min? Sama aja, kudu di amati tingkah laku bayi, ngapain aja,nyentuh apa aja,dll #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Apakah ada kontak dengan debu, air dingin, air panas, atau hal pencetus lainnya..jd emang perlu di amati #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Faktor pencetus sebetulnya bukan penyebab serangan alergi, tetapi menyulut terjadinya serangan alergi. #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Buat lah daftar yg kita curigai sebagai pencetus alergi ke anak, coba stop satu2 utk liat reaksi #MiminAlergi 


 @ID_AyahASI: Kira-kira gitu dulu yauuw, monggo kalo ada yang mau nambahin, @drOei ada sepatah dua patah kata mungkin? #MiminAlergi